Leave a comment

Oseanografi – Daerah Kepulauan Seribu

KEADAAN UMUM WILAYAH KEPULAUAN  SERIBU

 

Karakteristik Biofisik

Kepulauan seribu terdiri atas 110 pulau, dan 11 diantaranya yang dihuni penduduk.  Pulau-pulau lainnya digunakan untuk rekreasi, cagar alam, cagar budaya dan peruntukan lainnya.  Luas Kepulauan Seribu kurang lebih 108.000 ha, terletak dilepas pantai utara Jakarta dengan posisi memanjang dari Utara ke Selatan yang ditandai dengan pulau-pulau kecil berpasir putih dan gosong-gosong karang.  Pulau Untung Jawa merupakan pulau berpenghuni yang paling selatan atau paling dekat dengan jarak 37 mil laut dari Jakarta.  Sedangkan kawasan paling utara adalah Pulau Dua Barat yang berjarak sekitar 70 mil laut dari Jakarta. Keadaan angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh angin monsoon yang secara garis besar dapat dibagi menjadi Angin Musim Barat (Desember-Maret) dan Angin Musim Timur (Juni-September).  Musim Pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-Nopember.  Kecepatan angin pada musim Barat bervariasi antara 7-20 knot per jam, yang umumnya bertiup dari Barat Daya sampai Barat Laut.  Angin kencang dengan kecepatan 20 knot per jam biasanya terjadi antara bulan Desember-Februari.  Pada musim Timur kecepatan angin berkisar antara 7-15 knot per jam yang bertiup dari arah Timur sampai Tenggara. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Nopember-April dengan hujan antara 10-20 hari/bulan.  Curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari dan total curah hujan tahunan sekitar 1700 mm.  Musim kemarau kadang-kadang juga terdapat hujan dengan jumlah hari hujan antara 4-10 hari/bulan.  Curah hujan terkecil terjadi pada bulan Agustus. Kawasan Kepulauan Seribu memiliki tofografi datar hingga landai dengan ketinggian sekitar 0 –2 meter d.p.l.  Luas daratan dapat berubah oleh pasang surut dengan ketinggian pasang antara  1 – 1,5 meter.  Morfologi Kepulauan Seribu dengan demikian merupakan dataran rendah pantai, dengan perairan laut ditumbuhi karang yang membentuk atoll maupun karang penghalang.  Atol dijumpai hamper diseluruh gugusan pulau, kecuali Pulau Pari, sedangkan fringing reef dijumpai antara lain di P. Pari, P. Kotok dan P. Tikus. Air tanah di Kepulauan Seribu dapat berupa air tanah tidak tertekan yang dijumpai sebagai air sumur yang digali dengan kedalaman 0,5 – 4 meter pada beberapa pulau berpenghuni.  Air tanah tertekan juga dijumpai di beberapa pulau, seperti P.Pari, P. Untung Jawa dan P.Kelapa (Dinas Pertambangan DKI Jakarta). Keberadaan air tanah di Kepulauan Seribu terkait dengan penyebaran endapan sungai purba yang menjadi dasar tumbuhnya karang.

 

Kondisi Oseanografi

 

Batimetri

Kedalaman perairan di Kepulauan Seribu sangat bervariasi, dimana beberapa lokasi mencatat kedalaman hingga lebih dari 70 meter, seperti lokasi antara P. Gosong Congkak dan  P. Semak Daun pada posisi 106°35’00” BT dan 05°43’08” LS dengan kedalaman 75 meter.  Setiap pulau umumnya dikelilingi oleh paparan pulau yang cukup luas (island shelf) hingga 20 kali lebih luas dari pulau yang bersangkutan dengan kedalaman kurang dari 5 meter.   Hampir setiap pulau juga memiliki daerah rataan karang yang cukup luas (reef flat) dengan kedalaman bervariasi dari 50 cm pada pasang terendah hingga 1 meter pada jarak 60 meter hingga 80 meter dari garis pantai.  Dasar rataan karang merupakan variasi antarapasir, karang mati, sampai karang batu hidup.  Di dasar laut, tepi rataan karang sering diikuti oleh daerah tubir dengan kemiringan curam hingga mencapai 70° dan mencapai dasar laut dengan kedalaman bervariasi dari 10 meter hingga 75 meter.

 

Pasang Surut

Berdasarkan pengukuran di stasiun penelitian oleh ITB Bandung tahun 2001 yang berlokasi di Pulau Untung Jawa pada koordinat 05°58’45,21” LS – 106°42’11,07” BT, kondisi pasang surut di Kepulauan Seribu dapat dikategorikan sebagai harian tunggal.  Kedudukan air tertinggi dan terendah adalah 0,6 dan 0,5 meter dibawah duduk tengah.  Rata-rata tunggang air pada pasang perbani adalah 0,9 meter dan rata-rata tunggang air pada pasang mati adalah 0,2 meter.  Tunggang air tahunan terbesar mencapai 1,10 meter (Dishidros, 1986;Dinas Perikanan dan  Kelautan DKI Jakarta, 1998).  Pengamatan pada tahun 1999 di P. Pramuka, P. Karya dan P. Panggang mencatat tinggi muka laut rata-rata sebesar 1,01 m pada skala palem dan tinggi referensi kedalaman peta (chart datum) sebasar 0,65 m dibawah muka laut rata-rata (Jurusan Teknik Geodesi-ITB). Hasil pengamatan pasang surut yang dilakukan oleh Jurusan Teknik Geodesi – ITB pada bulan Pebruari 2000 menghasilkan sembilan konstituen pasang surut utama.  Konstituen dapat dipergunakan untuk meramalkan perubahan elevasi muka air akibat pasang surut. Tabel 3.  Konstituen Pasang Surut di Kepulauan Seribu

 

Hasil pengukuran di P. Pramuka pada tahun 1993 (Effendi, 1993) mencatat kecepatan arus sebesar 2 – 19 sm/dt.  Pada tahun 1997, kecepatan arus di P. Panggang, P. Pramuka, P. Semak, P. Karang Congkak dan P. Karang Bongkok tercatat sebesar 9 cm/dt, 10 cm/dt, 12 cm/dt, 4 cm/dt dan 5 cm/dt (Dinas Perikanan Kelautan DKI Jakarta, 1998).  Pengukuran pada tahun 1999 (Jurusan Teknik Geodesi-ITB) mencatat kecepatan arus di P. Pramuka, P. Panggang dan P. Karya pada kondisi pasang purnama (spring tide) sebesar 5 – 48 cm/dt dengan arah bervariasi antara 3 – 348°.   Dilokasi yang sama pada kondisi pasang perbani (neeptide) kecepatan arus tercatat sebesar 4 – 30 cm/dt dengan arah bervariasi antara 16- 350°. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Seawatch – BPPT di P. Kelapa pada  bulan Nopember dan Desember 1998 mencatat kecepatan arus pada kisaran 0,6 cm/dt hingga 77,3 cm/dt dengan rata-rata kecepatan sebesar 23,6 cm/dt dengan dominasi arah arus ke arah Timur – Timur Laut.

 

Gelombang

Pengukuran di P. Pramuka pada bulan Desember 1999 mencatat tinggi gelombang rata-rata yang diukur setiap jam selama 5 hari adalah 7,0 – 69,5 cm dengan periode rata-rata 2,4 – 6,3 detik (Jurusan Teknik Geodesi – ITB, 1999). Gelombang di daerah tubir akan lebih besar dibandingkan gelombang di garis pantai.  Hal ini disebabkan di pantai telah terjadi peredaman gelombang oleh rataan karang yang dangkal.  Data tersebut menyimpulkan bahwa tinggi gelombang di sekitar P. Pramuka dapat dikategorikan sebagai rendah (<1 meter) walaupun frekuensinya cukup tinggi. Tinggi gelombang di Kepulauan Seribu pada musim Barat adalah sebesar 0,5 – 1,5 meter, sedangkan pada musim Timur adalah sebesar 0,5 – 1,0 m (Dihiros TNI-AL, 1986).  Tinggi gelombang sangat bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lainnya disebabkan oleh variasi kecepatan angin dan adanya penjalaran gelombang dan perairan sekitarnya, sesuai dengan letak gugusan Kepulauan Seribu yang berbatasan dengan perairan terbuka.  Gelombang didominasi oleh arah Timur –  Tenggara yang dipengaruhi oleh refraksi pada saat memasuki daerah tubir. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Seawatch Indonesia pada bulan Nopember 1998 – Agustus 1999 di P. Kelapa mencatat tinggi gelombang pada kisaran 0,05 – 1,03 meter dengan periode gelombang berkisar antara 2,13 – 5,52 detik.

 

Kualitas Perairan Laut

Mengacu pada beberapa hasil pengukuran kualitas air laut yang dilakukan pada waktu yang berbeda, dapat disimpulkan bahwa suhu, kecerahan dan salinitas relatif mencatat kondisi yang sama dibeberapa lokasi dan antar musim sebagaimana tertera pada Tabel berikut.  Suhu air laut dan salinitas tidak mencatat fluktuasi yang nyata pada musim Barat, musim Timur sebesar 28,5°-31,0° (Dinas Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta, 1998).  Sedangkan salinitas berkisar antara 30 – 34 promil, dimana pengukuran yang dilakukan pada tahun 1997 di P. Panggang, P. Pramuka, P. Semak Daun, P. Karang Congkak dan P. Karang Bongkok mencatat angka sebesar 32,0 promil, 31,5 promil, 31,8 promil, 32,0 promil dan 32,0 promil.   Pengukuran yang dilakukan pada tahun 1999 di P. Pramuka, P. Panggang dan P. Karya mencatat angka yang relatif stabil, yaitu sebesar 32,65 – 32,74 promil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: